Usai #1 | Rencana
—
Sejak tahu bahwa kamu memiliki perasaan yang sama sebagaimana perasaanku kepadamu, aku tidak merasa apa-apa lagi selain bahagia. Aku selalu berdoa, bersamamu adalah selamanya. Akan kuusahakan untuk mewujudkannya.
Aku tidak pernah merasa bahwa aku istimewa. Tidak, sebelum aku mengenalmu. Tak sedikit yang mencoba mengetuk hatimu, dan kepadaku kamu memilih membukakan pintu. Kamu berhasil membuatku menjadi satu-satunya orang paling beruntung di dunia ini.
Sekali dua kali kadang terbersit dalam kepala, apakah aku pantas untuk bersanding denganmu?
Apa kamu tidak salah menjadikan keningmu sebagai alamat terbenam kecupku?
Tapi lepas dari itu, aku senang. Hadirmu benar-benar menciptakan warna baru. Terima kasih untuk itu.
Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa. Namun percayalah, selagi detak jantungku masih ada, tidak akan kubiarkan kamu dihampiri duka.
Masih ingatkah kamu dengan perbincangan sore kita di kedai kopi dekat alun-alun kota? Saat jari-jemarimu mengisi lengkap sela genggamku, saat kepalamu menyandar pasrah di bahuku, saat kubisikan lirih sebuah rencana tepat di telingamu.
Aku selalu membayangkan betapa indah suatu waktu. Duduk berdua di beranda rumah, dihampiri anak-anak kecil berlarian—anak-anak kita. Mereka membaur, mendekap mesra. Sungguh tidak ada hal lebih romantis yang pernah kurencanakan selain denganmu membangun rumah tangga. Betapa akan sangat bahagia memilikimu seutuhnya.
Untuk sampai kesana, tidak mungkin kulakukan seorang diri, aku membutuhkan kerjasamamu. Tenang, aku tidak akan membiarkan yang berat-berat membebanimu. Kamu hanya perlu tetap mendampingiku, bersabar sebentar lagi, sembari berdoa kepada ilahi. Sisanya serahkan kepadaku.
Kupikir tidak terlalu lama, tiga empat tahun lagi demi selamanya. Bagaimana?
Klik di sini untuk baca balasannya.
nice brader, tulisanmu inspirasiku
BalasHapus