Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2021

21 | Bagian Dua

Sebelum membaca bagian dua ini, ada baiknya kalian baca dulu    21 | Bagian Satu "Kita tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, tapi kita selalu bisa untuk hidup dengan jalan yang bagaimana." Maret 2018 Bulan ini usiaku genap 18 tahun. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya memikirkan kesenangan, meski jauh sebelum usiaku yang sekarang, hidupku juga tidak selalu tentang senang. Keadaan memaksaku lebih dewasa dari usia. Sungguh kalau hidup bisa memilih, aku akan memilih jadi anak konglomerat saja, tidak perlu repot-repot memikirkan dapat uang dari mana untuk membeli sesuatu yang kuinginkan. Tapi Tuhan tidak mengijinkan takdir berkompromi dengan kehendak makhluk-Nya bukan? Termasuk aku, pun kamu, yang ditakdirkan tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa.  Takdir sudah ditentukan, tapi untuk menjalaninya, kita selalu memiliki banyak jalan. Dan inilah jalan yang kutempuh. Kebanyakan orang dewasa akan menilaiku sebagai anak yang urakan, berandalan, atau stigma-st...

21 | Bagian Satu

Gambar
"Sejauh mana kamu percaya kekuatan do'a? Seyakin apa kamu dengan cara Tuhan mengabulkan do'a-doa'mu itu?" Agustus 2017  Apa kamu pernah berpikir kalau sekolah sebenarnya tidak begitu berguna? Bahwa selain secarik kertas bernama ijazah yang dipersyaratkan jenjang pendidikan selanjutnya atau tempat kerja itu, sekolah hanyalah ruang atensi bagi mereka yang berprestasi. Sementara bagi orang-orang berkapasitas otak rendah sepertiku, sekolah menganggap kami hanya sebagai pelengkap daftar hadir harian semata. Mencerdaskan kehidupan bangsa makin kesini terdengar seperti dongeng belaka. Sekolah lebih memperhatikan mereka yang sudah cerdas, yang bodoh ya bodoh saja sudah. Jangan berharap lebih.   Mungkin tidak begitu pemikiranmu, tapi aku juga tidak sendiri. Paling tidak 5 sampai 8 kawan sekelasku memiliki pemikiran yang sama. Itulah mengapa di awal semester kelas 11 ini, aku dan kawan-kawanku memilih kabur dari kelas untuk nongkrong di kios es campur milik Mas Atik, kenala...

Srengenge #7 | Yang Kukira Penggantimu

— Aku sempat terjebak begitu lama dalam kekangan bernama kenangan. Waktu—yang katamu menyembuhkan, tidak pernah benar-benar menutup pintu masa lalu. Aku merasa masih terlalu banyak hal indah, sekalipun dengan itu luka-luka juga kian membasah.  Bertahun-tahun aku terbelenggu perasaan semacam itu. berusaha mati-matian berdamai dengan sepi, membesar-besarkan hatiku sendiri dengan harapan bahwa kata pulang selalu ada bagi setiap yang pergi. Aku tidak punya alasan kenapa bisa seyakin itu. Yang aku percaya, pulang berlaku juga untuk kepergianmu.  Sejak hari kamu angkat kaki dari sini, dari ruang rindu yang dulu kita sebut rumah ini, bukan berarti aku tidak berusaha mencari penghuni baru. Aku sudah mencobanya, sekali, dua kali, berkali-kali. Tapi lagi-lagi, aku selalu gagal sebelum memulai. Ada semacam perasaan takut yang begitu kuat. Aku takut penghuni baru hanya akan menganggap rumah ini sebagai pelarianku atas kepergianmu. Aku takut gagal menjadi tuan yang baik bagi pendatang baru...