Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2021

Srengenge #6 | Kenapa Harus Kamu?

— Kalau lagi-lagi aku harus menulis tentang kamu, akankah kamu bosan membacanya? Mengingat kenyataan semua sudah berbeda keadaannya. Aku pernah dibuat senang oleh pengakuanmu di hari-hari baik yang telah lalu, bahwa kamu akan selalu menjadi pembaca setia dari setiap resahku yang menjelma susunan kata. Bila saja masih ada kesempatan untuk aku bertanya, benarkah itu masih berlaku ketika yang terjadi kini tidak sama lagi sebagaimana dulu? Bicara tentang kesempatan, ada satu hal yang mengantarkanku pada sesal paling dalam. Adalah aku dan ketidaktahudirianku yang menyia-nyiakan kesempatan untuk setidaknya mengenalmu lebih lama. Bahwa mungkin Tuhan memang menghadirkanmu di dalam hidupku hanya untuk cukup sebagai teman. Sayangnya, aku tidak selalu sepakat dengan keputusan Tuhan. Ambisiku terlalu menggebu, meminta lebih dari apa yang Tuhan sebut cukup itu.  Aku selalu beranggapan bahwa ketika kita begitu baik sebagai seorang teman, mengapa tidak saling mengikat saja dalam kepemilikan? Buka...

Srengenge #5 | Andai Kita Punya Selamanya

— Sesaat, dua saat, tiga saat, atau saat-saat yang lainnya, bersamamu adalah menyenangkan. Barangkali Tuhan sedang memberitahuku betapa waktu memang berharga, sebab berbeda rasanya ketika bersamamu, dengan bila kamu tak ada. Bahwa aku ingin hidup cukuplah begini saja, menjalani sisa usia di sisimu, tanpa perlu mencemaskan apa-apa. Seperti yang pernah kukatakan waktu itu, aku bersyukur memilikimu. Entah dengan terima kasih yang mana lagi mesti kuungkapkan. Satu yang pasti; aku bahagia. Andai kita punya selamanya. Apa kamu ingat tentang rencana-rencana yang kita tulis berdua saat terjebak hujan sore di rumahmu? Masing-masing kita menulis tempat mana saja yang harus dikunjungi suatu saat nanti. Dan Jogja menjadi urutan pertama di baris rencanamu. "Sebenarnya, kemana saja asal sama kamu, aku mau. Tapi masalah Jogja ini harus. Jogja menyimpan banyak sekali cerita tentang kita, dan aku selalu ingin ke sana lagi, berkali-kali," katamu. Sejak hari itu, Jogja menjadi lebih istimewa d...

Srengenge #4 | Pindah Rumah

Sebelum membaca ini, ada baiknya kamu baca dulu yang kumaksud sebagai  "rumah." — Seperti kukatakan sebelumnya, berbicara perihal pergi dari rumah selalu ada dua kemungkinan; pulang atau pindah.  Apa yang paling baik dari keduanya? Kukira tidak ada. Tiap-tiap dari kemungkinan itu memiliki sisi pedihnya sendiri. Kalau kamu tanya menurutku baik yang mana, sudah pasti aku memilih pilihan pertama. Pamitmu pergi memang untuk kembali kan? Tapi mungkin tidak begitu bagimu. Saat kamu merasa rumah sudah tak lagi nyaman, dan pindah menjadi satu-satunya pilihan, aku bisa apa selain berusaha merelakan? Bukankah lebih pedih memaksamu bertahan dalam ketidaknyamanan daripada membiarkanmu pergi meski menyakitkan? Dan pada kenyataannya memang itu yang terjadi. Kamu mengingkari pamitmu sendiri.  Aku tidak sedang membicarakan siapa salah siapa benar, karena keputusanmu pergi memang bukan tentang itu. Aku hanya sedang menyayangkan kenapa dulu begitu percaya saat kau sebut kita adalah rumah. ...

Srengenge #3 | Rumah

Tidak sedikit yang mengatakan kalau rumah adalah tempat untuk pulang, termasuk aku, pada awalnya. Sebagaimana sebagian besar orang percaya, sesederhana apapun rumah, ia adalah tempat ternyaman untuk kembali, tujuan paling agung dari setiap kata pergi. Suatu waktu kamu mengatakan bahwa apa yang terjalin di antara kita adalah rumah. Maka yang aku yakini sejauh apapun jarak memisahkan aku dan kamu, pada akhirnya akan kembali kepada kita. Sebab rumah adalah tempat pulang, bukan? Ketika kemudian jarak benar-benar memaksa kita untuk tidak selalu berjumpa, kupikir tidak apa-apa. Kita sama-sama mengerti, dunia tidak mungkin tunduk pada ego asmara yang meminta setiap waktu selalu berdua. Ada kala kita mesti saling merengkuh meski jauh.  Kecupku yang terbit di keningmu, atau kecupmu yang tenggelam di punggung tanganku menjelang sebuah pamit adalah bukti bahwa jiwa kita tetap terikat walau raga tidak lagi dekat.  Selepas kepergianmu—yang kukira sementara itu, dunia mengantarkanku ke dala...