Postingan

UNGGULAN

Malam Raya

 — "Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa-ilaha ilallahu wallahu Akbar. Allahu Akbar walillahilhamd..." Gemuruh lafadz takbir bersahutan dari toa-toa masjid, menggema mengudara, menyejukkan sesiapa saja yang mendengarnya. Aku berjalan menyusuri lorong gang kecil perkampungan warga. Tujuanku hanya satu: warung Madura. Setelah buka puasa hari terakhir Ramadhan tadi aku lupa belum sempat membeli rokok. Di lorong gang sempit itu aku melewati rumah-rumah warga, beberapa merupakan asli penduduk kampung sini, sisanya pendatang yang berpuluh-puluh tahun sudah menetap dan berkeluarga. Sesekali pandanganku mengarah ke rumah mereka, satu-persatu.  Rumah pertama dihuni sopir bajaj dan keluarganya, dia memiliki seorang istri dan dua anak. Anaknya yang paling besar setahuku kelas 3 SMP. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah rumah yang bisa dilihat langsung dari luar melalui jendela. Kulihat mereka sibuk menganyam daun kelapa membuat ketupat, setelah siang tadi sibuk memasak renda...

21 | Bagian Dua

Sebelum membaca bagian dua ini, ada baiknya kalian baca dulu    21 | Bagian Satu "Kita tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, tapi kita selalu bisa untuk hidup dengan jalan yang bagaimana." Maret 2018 Bulan ini usiaku genap 18 tahun. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya memikirkan kesenangan, meski jauh sebelum usiaku yang sekarang, hidupku juga tidak selalu tentang senang. Keadaan memaksaku lebih dewasa dari usia. Sungguh kalau hidup bisa memilih, aku akan memilih jadi anak konglomerat saja, tidak perlu repot-repot memikirkan dapat uang dari mana untuk membeli sesuatu yang kuinginkan. Tapi Tuhan tidak mengijinkan takdir berkompromi dengan kehendak makhluk-Nya bukan? Termasuk aku, pun kamu, yang ditakdirkan tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa.  Takdir sudah ditentukan, tapi untuk menjalaninya, kita selalu memiliki banyak jalan. Dan inilah jalan yang kutempuh. Kebanyakan orang dewasa akan menilaiku sebagai anak yang urakan, berandalan, atau stigma-st...

21 | Bagian Satu

Gambar
"Sejauh mana kamu percaya kekuatan do'a? Seyakin apa kamu dengan cara Tuhan mengabulkan do'a-doa'mu itu?" Agustus 2017  Apa kamu pernah berpikir kalau sekolah sebenarnya tidak begitu berguna? Bahwa selain secarik kertas bernama ijazah yang dipersyaratkan jenjang pendidikan selanjutnya atau tempat kerja itu, sekolah hanyalah ruang atensi bagi mereka yang berprestasi. Sementara bagi orang-orang berkapasitas otak rendah sepertiku, sekolah menganggap kami hanya sebagai pelengkap daftar hadir harian semata. Mencerdaskan kehidupan bangsa makin kesini terdengar seperti dongeng belaka. Sekolah lebih memperhatikan mereka yang sudah cerdas, yang bodoh ya bodoh saja sudah. Jangan berharap lebih.   Mungkin tidak begitu pemikiranmu, tapi aku juga tidak sendiri. Paling tidak 5 sampai 8 kawan sekelasku memiliki pemikiran yang sama. Itulah mengapa di awal semester kelas 11 ini, aku dan kawan-kawanku memilih kabur dari kelas untuk nongkrong di kios es campur milik Mas Atik, kenala...

Srengenge #7 | Yang Kukira Penggantimu

— Aku sempat terjebak begitu lama dalam kekangan bernama kenangan. Waktu—yang katamu menyembuhkan, tidak pernah benar-benar menutup pintu masa lalu. Aku merasa masih terlalu banyak hal indah, sekalipun dengan itu luka-luka juga kian membasah.  Bertahun-tahun aku terbelenggu perasaan semacam itu. berusaha mati-matian berdamai dengan sepi, membesar-besarkan hatiku sendiri dengan harapan bahwa kata pulang selalu ada bagi setiap yang pergi. Aku tidak punya alasan kenapa bisa seyakin itu. Yang aku percaya, pulang berlaku juga untuk kepergianmu.  Sejak hari kamu angkat kaki dari sini, dari ruang rindu yang dulu kita sebut rumah ini, bukan berarti aku tidak berusaha mencari penghuni baru. Aku sudah mencobanya, sekali, dua kali, berkali-kali. Tapi lagi-lagi, aku selalu gagal sebelum memulai. Ada semacam perasaan takut yang begitu kuat. Aku takut penghuni baru hanya akan menganggap rumah ini sebagai pelarianku atas kepergianmu. Aku takut gagal menjadi tuan yang baik bagi pendatang baru...

Cinta dan Luka(s)

Raden Yoga Prahmadiyan PoV  

Seangin #3 | Yang Tak Sempat

Bagaimanapun, setiap kata pergi memiliki dukanya sendiri. Bahwa kehilangan selalu meninggalkan bekas luka yang mendalam. Entah itu kehilangan apa yang pernah dimiliki, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sama sekali belum pernah kamu temui.  Ya. Kamu tidak salah baca. Pada suatu waktu ada yang kehilangan atas apa yang belum pernah ia temui. Mungkin tidak bagimu, tapi aku benar-benar merasakannya. Kehilangan seseorang yang dengannya aku tidak pernah bertatap muka. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya kecuali lewat foto saja.  Meski tidak sekali dua kali aku berkenalan dengan apa yang kemudian disebut sebagai kehilangan, untuk yang kali ini perasaan itu benar-benar asing. Ada semacam belati yang menghujam dadaku bertubi-tubi saat mendengar kabar kepergiannya yang tiba-tiba. Tentang kecelakaan yang merenggut nyawanya, aku tidak tahu harus berkata apa. Marah. Geram. Sedih. Kecewa. Menyesal. Entah, semuanya beradu menjadi satu. Kalau saja aku bisa, sungguh, ingin kubalaskan den...

Srengenge #6 | Kenapa Harus Kamu?

— Kalau lagi-lagi aku harus menulis tentang kamu, akankah kamu bosan membacanya? Mengingat kenyataan semua sudah berbeda keadaannya. Aku pernah dibuat senang oleh pengakuanmu di hari-hari baik yang telah lalu, bahwa kamu akan selalu menjadi pembaca setia dari setiap resahku yang menjelma susunan kata. Bila saja masih ada kesempatan untuk aku bertanya, benarkah itu masih berlaku ketika yang terjadi kini tidak sama lagi sebagaimana dulu? Bicara tentang kesempatan, ada satu hal yang mengantarkanku pada sesal paling dalam. Adalah aku dan ketidaktahudirianku yang menyia-nyiakan kesempatan untuk setidaknya mengenalmu lebih lama. Bahwa mungkin Tuhan memang menghadirkanmu di dalam hidupku hanya untuk cukup sebagai teman. Sayangnya, aku tidak selalu sepakat dengan keputusan Tuhan. Ambisiku terlalu menggebu, meminta lebih dari apa yang Tuhan sebut cukup itu.  Aku selalu beranggapan bahwa ketika kita begitu baik sebagai seorang teman, mengapa tidak saling mengikat saja dalam kepemilikan? Buka...