Srengenge #2.2 | Surat yang Tak Pernah Kau Baca
Teruntuk Rin, Bicara soal aku siapa atau kamu siapa, untuk saat ini mungkin sudah tidak ada gunanya. Pada kenyataannya, bagi masing-masing kita, baik aku maupun kamu adalah bukan lagi siapa-siapa, kecuali hanya dua orang yang gagal mengatasi terjal. Tapi biar bagaimana akhirnya, Rin, aku tetaplah aku, yang pernah kamu kenal dengan baik. Yang pernah menjadi satu-satunya alamat dari surat-suratmu. Yang mungkin saja kamu tidak tahu kalau surat-surat itu masih kusimpan rapi di laci meja kamarku. Rin. Meski manusia adalah tempatnya luput dan lupa, semoga kamu tidak benar-benar melupakan tentang yang pernah terjadi di bulan Desember. Ya, bulan ini, bertahun-tahun yang lalu. Saat rerintik sisa hujan menjadi saksi bagaimana semuanya bermula. Harus jujur aku katakan, segala hal di hari ke dua puluh enam itu memang mengingatkanku kepadamu. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, sementara dalam surat-suratmu dengan sempurna kamu eja satu persatu. Tentang mata kita yang saling men...