Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2020

Srengenge #2.2 | Surat yang Tak Pernah Kau Baca

Teruntuk Rin, Bicara soal aku siapa atau kamu siapa, untuk saat ini mungkin sudah tidak ada gunanya. Pada kenyataannya, bagi masing-masing kita, baik aku maupun kamu adalah bukan lagi siapa-siapa, kecuali hanya dua orang yang gagal mengatasi terjal.  Tapi biar bagaimana akhirnya, Rin, aku tetaplah aku, yang pernah kamu kenal dengan baik. Yang pernah menjadi satu-satunya alamat dari surat-suratmu. Yang mungkin saja kamu tidak tahu kalau surat-surat itu masih kusimpan rapi di laci meja kamarku.  Rin. Meski manusia adalah tempatnya luput dan lupa, semoga kamu tidak benar-benar melupakan tentang yang pernah terjadi di bulan Desember. Ya, bulan ini, bertahun-tahun yang lalu. Saat rerintik sisa hujan menjadi saksi bagaimana semuanya bermula.  Harus jujur aku katakan, segala hal di hari ke dua puluh enam itu memang mengingatkanku kepadamu. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, sementara dalam surat-suratmu dengan sempurna kamu eja satu persatu.  Tentang mata kita yang saling men...

Srengenge #2.1 | Sekisah Tembang untuk Kasih yang Tumbang

Sepucuk surat di bawah pohon kersen depan kelas Janji kita ditulis embun sisa hujan semalam Ranting-ranting basah di dahan pohon itu, menjadi saksi asal muasal rindu Dari balik jendela, aku melempar secarik harap Kau membalasnya dengan selarik malu tatap, apa gerangan yang tersirat? Sepucuk surat di bawah pohon kersen depan kelas Janji kita dirawat hembus angin tanggal dua puluh enam Daun-daun kering yang jatuh dari pohon itu, mengabarkan kepada rumput hari pertama kita bertemu Sepasang tawon mengawasi cemburu Setangkai ros putih tempat mereka bulan madu kini terselip di telinga kananmu Sepucuk surat di bawah pohon kersen depan kelas Janji kita disemai musim tak tentu Benih yang kutanam di taman hatimu, kaumekarkan di taman lain Gerimis sisa hujan semalam kaupayungi dengan matahari yang entah milik siapa Di bawah pohon kersen depan kelas Sehujan pagi mengingkari janji kita Rintik pilunya tak lagi sanggup menulis sepucuk surat kepadamu Setelah kuntum melati mekar melingkari lehermu Bung...

Seangin #2 | Selamat Hari Bahagia

  "Hari lahir adiknya kok dirayain? Itu kan bukan budaya kita. Dan dalam agama kita juga ga ada tuntunannya. Kok membiasakan hal yg tidak diajarkan agama?" — Ah aku bukanlah orang yang pandai dalam hal agama. Pun dalam hal memegang erat budaya.  Tapi aku mengerti, Tuhan Maha Tahu. Dia paham atas segala ketidaktahuanku.  Sejak kecil aku diajari bahwa semua hal itu tergantung kepada niat. Dan itu juga yang coba aku ajarkan kepada adikku. Meski di usianya yang sekarang, tentu dia belum mengerti hal-hal begitu.  Sekali lagi, aku bukan orang yang pandai dalam beragama. Tapi aku yakin, Tuhan senang ketika hambanya berusaha membuat orang lain senang. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Aku adakan acara untuk mengistimewakan hari lahir adikku semata-mata agar kelak dia paham, betapa berharganya kehadiran orang lain dalam hidupnya. Betapa ia merasakan setidaknya satu hari saja dalam setahun ia adalah istimewa, dan semua teman-temannya men...

Srengenge #1.3 | Dekat

  Sejauh ini, benarkah kita dekat? — Kita adalah dekat, Dek, itu yang pasti.  Bila menurutmu tidak, bukan kepadaku kau harusnya menanyakannya, tapi kepada dirimu sendiri. Bagaimana mungkin kamu akan merasakan kalau kita dekat, jika kamu sendiri masih tidak mengerti apa makna dekat yang sebenarnya.  Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi sebagai seorang kekasih, sedikitnya aku bisa membaca mengenai apa-apa yang sedang terjadi di antara kita, Dek. Aku mulai berpikir hal yang pernah ingin kupikirkan sebelumnya, tentang ada orang selain aku yang kau pikir dekat. Semoga suatu hari nanti, jika aku dan kau masih tetap utuh sebagai kita, kau akan mengerti, bahwa kau tidak akan pernah menemukan nyaman pada dua rumah berbeda.  — Jakarta, 3 Desember 2020

Srengenge #1.2 | Dekat

  Sejauh ini, benarkah kita dekat? — "Mas." "Dalem." "Kok banyak diam?" "Memang harus gaduh ya, Dek? Wkwk." "Ih. Engga gitu, Mas. Maksudku ya ngobrol kek apa gimana. Kita lagi jalan bareng loh ini. Sedekat ini masa iya si mau saling diam. Kayak yang lagi bertengkar aja." "Dek, dengar. Diam atau banyak bicara, bagiku tak ada bedanya. Asal sedang bersamamu seperti ini, tidak ada yang mesti dipermasalahkan lagi."  "Iya deh iya. Pegang tangannya ga usah terlalu kencang juga. Malu tuh dilihat orang." "Haha. Iya iya." ... "Mas." "Iya, Dek?" "Kok diam lagi?" "Dasar bawel." "Ih sakit. Jangan dicubit terus dong, nanti pipiku makin tembem." "Engga apa-apa. Kamu cantik kalau tembem." "Bisa ajaaaa." ... Mas. Tidakkah kau merasa bahwa kita semakin jauh? Bukan. Bukan tentang jarak. Tapi tentang hubungan ini.  Sebagai seorang kekasih, bukankah wajar ket...

Srengenge #1.1 | Dekat

  Sejauh ini, benarkah kita dekat? — "Dekat dalam artian apa nih?" "Ya dalam arti dekat, wkwk. Memangnya dalam arti apa lagi, A?" "Kalau dalam arti dekat yang sebenarnya ya kita jauh. Haha." "Engga salah sih. Bandung-Purbalingga kan memang engga dekat, A. Hmm. Kalau dalam arti lain memangnya apa, A?" "Kalau dekat dalam arti lain mungkin bukan tentang jarak, Neng." "Lalu tentang apa dong?" "Tentang apa ya? Mungkin dekat yang seperti kita ini, Neng. Dekat di aplikasi bercakap. Semoga yang jauh hanya jarak, bukan hati. Hehe." "Bisa aja nih si Aa. Ngomong-ngomong, besok libur apa lembur, A?" "Libur, Neng." "Liburan dong?" "Liburan kemana ya? Engga kayaknya deh. Mau istirahat aja." "Halah istirahat-istirahat juga palingan mabar game." "Haha, si paling paham." "Si tukang main game -_-" ... Sejauh ini yang kurasakan tentang kita adalah dekat, Neng. Sebera...