Usai #3 | Keputus(asa)an

Aku adalah yang tengah berjalan di padang pasir nan tandus. Dan kamu oase di ujung mata. Kamu memerlukan seseorang untuk berkunjung, sementara aku adalah yang mencarimu. Menemukanmu membuatku berpikir bahwa dahaga akan segera berakhir. Aku sama sekali tidak mengira bahwa tidak semua oase adalah nyata, ada juga fatamorgana.

Membaca tulisanmu yang kemarin, ada sesuatu sangat kuat menghujam dada. Aku tak yakin itu apa, yang pasti mengacaukan semua. Aku bahkan tak sanggup memberi nama untuk apa yang sedang aku rasa. Begitu dingin. Begitu dalam. Begitu gelap. Dan menyayat. Aku tak mau terburu-buru menyimpulkan, 

Tapi...

Inikah yang biasa orang-orang sebut sebagai patah hati? Beginikah pedihnya?

Bukan baru kemarin sore aku mengenalmu. Tapi, pada kenyataannya aku bahkan tidak mengerti sedikit saja kenapa tiba-tiba kamu ragu. Atau sebenarnya ini bukan tiba-tiba, hanya aku saja yang baru menyadarinya?

Sudah banyak hal kita lalui bersama. Paling tidak, banyak juga hal tentangmu yang semestinya bisa kumengerti.

Apa yang selama ini kusebut sebagai rencana, tentang memilikimu seutuhnya, tentang denganmu membangun keluarga, tentang segala hal yang aku butuh setidaknya 4 tahun untuk mewujudkannya, kupikir semua akan terlaksana sebagaimana yang kukira. Tentang itu sudah kususun rapi sedemikian rupa, tak satupun aku melewatkannya.

Nyatanya tidak. Aku melupakan satu hal; kesanggupanmu. Aku lupa ini tentang rencana dua manusia yang tidak mungkin berhasil jika salah satu tidak lagi setuju. Aku lupa ada hal yang tidak bisa kompromi dengan waktu; menunggu. Dan kamu tak bisa untuk itu, bukan?

Aku tak mau berspekulasi tentang apa yang membuatmu ragu, tapi jujur, aku juga tak mau bila harus secepat ini kehilanganmu.

Ketika kamu bilang pernah mencintaiku, aku senang. Tapi segala kata pernah berarti sudah—dan tidak lagi, apakah itu maksudmu untuk menyudahi ini?

Kamu pikir ada yang lebih pasti dari bertahan, yaitu perpisahan?

Sesuatu yang sedikitpun tak pernah terlintas di kepalaku. Tapi bagaimanapun, kita memang tak bisa dipaksakan. Aku tak bisa terburu-buru, sementara kamu tak bisa menunggu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Kita sama-sama pengecutnya.


Klik di sini untuk lagi-lagi baca balasannya.


Komentar