Seangin #2 | Selamat Hari Bahagia

 "Hari lahir adiknya kok dirayain? Itu kan bukan budaya kita. Dan dalam agama kita juga ga ada tuntunannya. Kok membiasakan hal yg tidak diajarkan agama?"

Ah aku bukanlah orang yang pandai dalam hal agama. Pun dalam hal memegang erat budaya. 

Tapi aku mengerti, Tuhan Maha Tahu. Dia paham atas segala ketidaktahuanku. 

Sejak kecil aku diajari bahwa semua hal itu tergantung kepada niat. Dan itu juga yang coba aku ajarkan kepada adikku. Meski di usianya yang sekarang, tentu dia belum mengerti hal-hal begitu. 

Sekali lagi, aku bukan orang yang pandai dalam beragama.

Tapi aku yakin, Tuhan senang ketika hambanya berusaha membuat orang lain senang. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?

Aku adakan acara untuk mengistimewakan hari lahir adikku semata-mata agar kelak dia paham, betapa berharganya kehadiran orang lain dalam hidupnya. Betapa ia merasakan setidaknya satu hari saja dalam setahun ia adalah istimewa, dan semua teman-temannya mengakui itu. Ikut membaur dalam hari bahagia itu. Makan bersama, berkumpul layaknya keluarga. Mendoakannya bersama-sama.

Sehingga ia merasa dihargai, merasa memiliki teman, tidak merasakan kesepian. Bukannya sepi itu menyedihkan? Tegakan kamu mengajarkan rasa sepi kepada adik sendiri? 

Terserah bagaimana menurutmu, bagiku mengistimewakan satu hari dalam setahun adalah sebagai bentuk syukur.

Bersyukur bahwa masih diberi kesempatan untuk hidup, bahwa di hari itu saat kelahirannya dulu adalah perjuangan antara hidup dan mati seorang Ibu. Ketika akhirnya dia dan Ibunya selamat sampai di dunia, apakah salah jika sebagai bentuk bersyukur kita memperingatinya?

Untuk adikku, ketika kelak kau menemukan tulisan ini, semoga kau paham apa yang kumaksudkan sebagai niat hati. 

Tumbuh dan besarlah dengan harapan dan do'a-do'a.

Dengan seluruh yang menjadi semoga.

Pada akhirnya, selamat hari bahagia, adikku tercinta. Aku menyayangimu, senantiasa. 


Jakarta, 5 Desember 2020



Komentar