Srengenge #1.2 | Dekat

 Sejauh ini, benarkah kita dekat?


"Mas."

"Dalem."

"Kok banyak diam?"

"Memang harus gaduh ya, Dek? Wkwk."

"Ih. Engga gitu, Mas. Maksudku ya ngobrol kek apa gimana. Kita lagi jalan bareng loh ini. Sedekat ini masa iya si mau saling diam. Kayak yang lagi bertengkar aja."

"Dek, dengar. Diam atau banyak bicara, bagiku tak ada bedanya. Asal sedang bersamamu seperti ini, tidak ada yang mesti dipermasalahkan lagi." 

"Iya deh iya. Pegang tangannya ga usah terlalu kencang juga. Malu tuh dilihat orang."

"Haha. Iya iya."

...

"Mas."

"Iya, Dek?"

"Kok diam lagi?"

"Dasar bawel."

"Ih sakit. Jangan dicubit terus dong, nanti pipiku makin tembem."

"Engga apa-apa. Kamu cantik kalau tembem."

"Bisa ajaaaa."

...

Mas. Tidakkah kau merasa bahwa kita semakin jauh?

Bukan. Bukan tentang jarak. Tapi tentang hubungan ini. 

Sebagai seorang kekasih, bukankah wajar ketika aku juga ingin merasakan sebagaimana yang perempuan lain rasakan? Bercakap mesra saat bersama, berbicara panjang lebar tentang dunia yang kita ciptakan berdua. 

Genggam tanganmu memang masih ada, Mas. Tapi tidak selembut dulu. Dekapmu masih terasa, tapi tidak sehangat dulu. Bahkan cubitan jarimu di kedua pipiku kini tidak seperti cubitan manja. Apa yang kau pikir bercanda semakin hari semakin terasa sakit di dalam dada.

Meski mungkin bagimu tidak apa-apa, aku mulai merasa kehilangan nyaman yang dulu selalu kau berikan, Mas. 

Berat untuk kuakui, tapi jujur aku takut Mas. Aku takut akan menemukan nyaman dari orang selain kamu. Sebab, aku sudah menemukan makna dekat yang lain dari seseorang selain kamu. 


Srengenge #1.3 | Dekat

Komentar