Srengenge #3 | Rumah
Tidak sedikit yang mengatakan kalau rumah adalah tempat untuk pulang, termasuk aku, pada awalnya. Sebagaimana sebagian besar orang percaya, sesederhana apapun rumah, ia adalah tempat ternyaman untuk kembali, tujuan paling agung dari setiap kata pergi.
Suatu waktu kamu mengatakan bahwa apa yang terjalin di antara kita adalah rumah. Maka yang aku yakini sejauh apapun jarak memisahkan aku dan kamu, pada akhirnya akan kembali kepada kita. Sebab rumah adalah tempat pulang, bukan?
Ketika kemudian jarak benar-benar memaksa kita untuk tidak selalu berjumpa, kupikir tidak apa-apa. Kita sama-sama mengerti, dunia tidak mungkin tunduk pada ego asmara yang meminta setiap waktu selalu berdua. Ada kala kita mesti saling merengkuh meski jauh.
Kecupku yang terbit di keningmu, atau kecupmu yang tenggelam di punggung tanganku menjelang sebuah pamit adalah bukti bahwa jiwa kita tetap terikat walau raga tidak lagi dekat.
Selepas kepergianmu—yang kukira sementara itu, dunia mengantarkanku ke dalam sebuah ruang tunggu. Aku duduk sendiri di situ, tidak ditemani siapa-siapa kecuali perasaan menyebalkan bernama rindu. Aku memang benci ramai, tapi jujur, aku lebih benci kalau yang menjadikan sepi adalah tidak ada kamu di sini.
Tapi entah kamu lupa atau tersesat di mana, kata pulang tidak pernah membawamu kembali ke sini, ke tempat yang dulu kamu sebut rumah ini. Sejak saat itu dan hingga kini, sungguh aku ragu, benarkah rumah adalah tempat untuk pulang? Sebab jika benar kita adalah rumah, kenapa aku mesti memaksamu untuk kembali?
Jika dulu yang kamu sebut sebagai rumah adalah kita, maka kupikir sekarang rumah itu tidak akan lagi ada. Mustahil berbicara tentang "kita" ketika salah satu sudah tidak menginginkannya lagi, bukan?
Benar memang, selalu ada dua kemungkinan perihal pergi dari rumah; pulang atau pindah.
Komentar
Posting Komentar