Srengenge #5 | Andai Kita Punya Selamanya
—
Sesaat, dua saat, tiga saat, atau saat-saat yang lainnya, bersamamu adalah menyenangkan. Barangkali Tuhan sedang memberitahuku betapa waktu memang berharga, sebab berbeda rasanya ketika bersamamu, dengan bila kamu tak ada. Bahwa aku ingin hidup cukuplah begini saja, menjalani sisa usia di sisimu, tanpa perlu mencemaskan apa-apa.
Seperti yang pernah kukatakan waktu itu, aku bersyukur memilikimu. Entah dengan terima kasih yang mana lagi mesti kuungkapkan. Satu yang pasti; aku bahagia. Andai kita punya selamanya.
Apa kamu ingat tentang rencana-rencana yang kita tulis berdua saat terjebak hujan sore di rumahmu?
Masing-masing kita menulis tempat mana saja yang harus dikunjungi suatu saat nanti. Dan Jogja menjadi urutan pertama di baris rencanamu.
"Sebenarnya, kemana saja asal sama kamu, aku mau. Tapi masalah Jogja ini harus. Jogja menyimpan banyak sekali cerita tentang kita, dan aku selalu ingin ke sana lagi, berkali-kali," katamu. Sejak hari itu, Jogja menjadi lebih istimewa dari julukannya. (Suatu saat nanti, entah kamu membaca ini atau tidak, akan sampai juga di telingamu bahwa aku menulis lagu tentang Jogja, untukmu.)
Hari-hari berikutnya berjalan sebagaimana seharusnya, kecuali tentang kita. Tak sebersitpun terpikirkan bahwa akan secepat ini semua berhenti. Bagimu, bahagia selalu bisa dicari, dan lalu akhirnya memilih pergi. Sementara aku? Aku tidak punya pilihan lain kecuali melepasmu. Mungkin memang salahku, pernah mengatakan kalau bahagiamu adalah juga bahagiaku. Nyatanya memang tidak semudah itu mengatakan aku bahagia, ketika bahagiamu bukan lagi denganku.
Tapi apapun itu, semoga kamu benar-benar bahagia di sana, meski ketika menulis ini, jujur masih ada bagian dari diriku yang tidak rela. Entah bagaimana cara merelakan, sementara rencana dan angan-angan belum seluruhnya tersampaikan.
Tidak bisa kupungkiri, semua tidak sama lagi. Kamu sudah pergi, dan aku terjebak di antara harapan akan terwujudnya rencana kita suatu saat nanti. Sampai kemarin, semua angan itu masih hidup di dalam kepala, sebelum kemudian dibunuh kenyataan;
bahwa perihal kita hanya sebentar.
Komentar
Posting Komentar