Srengenge #6 | Kenapa Harus Kamu?

Kalau lagi-lagi aku harus menulis tentang kamu, akankah kamu bosan membacanya? Mengingat kenyataan semua sudah berbeda keadaannya. Aku pernah dibuat senang oleh pengakuanmu di hari-hari baik yang telah lalu, bahwa kamu akan selalu menjadi pembaca setia dari setiap resahku yang menjelma susunan kata. Bila saja masih ada kesempatan untuk aku bertanya, benarkah itu masih berlaku ketika yang terjadi kini tidak sama lagi sebagaimana dulu?

Bicara tentang kesempatan, ada satu hal yang mengantarkanku pada sesal paling dalam. Adalah aku dan ketidaktahudirianku yang menyia-nyiakan kesempatan untuk setidaknya mengenalmu lebih lama. Bahwa mungkin Tuhan memang menghadirkanmu di dalam hidupku hanya untuk cukup sebagai teman. Sayangnya, aku tidak selalu sepakat dengan keputusan Tuhan. Ambisiku terlalu menggebu, meminta lebih dari apa yang Tuhan sebut cukup itu. 

Aku selalu beranggapan bahwa ketika kita begitu baik sebagai seorang teman, mengapa tidak saling mengikat saja dalam kepemilikan? Bukankah aku dan kamu memiliki sangat banyak kecocokkan? Bukankah kita sudah lebih dari serasi untuk menjadi dua sejoli?

Tapi ada benarnya kata orang-orang, jatuh hati kepada teman sendiri selalu memiliki resiko dua kehilangan. Sempat aku tak percaya, sampai kemudian benar-benar merasakannya. Naas, kamulah yang menjadi bukti betapa merupakan sebuah kesalahan mencintai teman sendiri. Meski sesal tidak pernah mengembalikan, harus kuakui rasa bersalahku teramat dalam. Aku tak tahu akankah bisa kumaafkan diriku sendiri atau entah, hari-hari adalah aku yang mengutuk kesalahanku. Kenapa tidak sejak awal aku membatasi egoku? Kenapa terlambat kusadari kalau kita tetap bisa berdampingan tanpa saling memiliki? Kenapa harus kamu yang membuatku merasakan kehilangan sekali lagi?

Hingga detik ini, aku masih berharap suatu saat nanti bisa bertemu denganmu. Untuk setidaknya meminta maaf atas ketidakmampuanku menjadi teman yang baik untukmu. Semoga dengan itu, hari-hari baik akan datang lagi, meski aku sadar kata maaf saja tidak akan pernah membawamu kembali.




Komentar