Seangin #3 | Yang Tak Sempat
Bagaimanapun, setiap kata pergi memiliki dukanya sendiri. Bahwa kehilangan selalu meninggalkan bekas luka yang mendalam. Entah itu kehilangan apa yang pernah dimiliki, atau bahkan kehilangan sesuatu yang sama sekali belum pernah kamu temui.
Ya. Kamu tidak salah baca. Pada suatu waktu ada yang kehilangan atas apa yang belum pernah ia temui. Mungkin tidak bagimu, tapi aku benar-benar merasakannya. Kehilangan seseorang yang dengannya aku tidak pernah bertatap muka. Aku bahkan tidak tahu bagaimana wajahnya kecuali lewat foto saja.
Meski tidak sekali dua kali aku berkenalan dengan apa yang kemudian disebut sebagai kehilangan, untuk yang kali ini perasaan itu benar-benar asing. Ada semacam belati yang menghujam dadaku bertubi-tubi saat mendengar kabar kepergiannya yang tiba-tiba.
Tentang kecelakaan yang merenggut nyawanya, aku tidak tahu harus berkata apa. Marah. Geram. Sedih. Kecewa. Menyesal. Entah, semuanya beradu menjadi satu.
Kalau saja aku bisa, sungguh, ingin kubalaskan dendam kepada orang yang membuatnya tiada. Tapi apalah daya, hanya marah yang saat itu aku punya. Mungkin semua orang sudah rela dengan kepergiannya dan memaafkan peristiwa yang membuatnya tiada. Tapi tidak denganku, sampai detik aku menuliskan ini, aku tidak bisa melakukannya.
Bagaimana mungkin aku bisa memaafkan orang yang menjadikanku tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengan saudara jauhku itu?
Awalnya kupikir jarak antara aku dengannya hanya terhalang Selat Sunda. Jambi-Purbalingga tidak seberapa jauhnya. Sampai kemudian aku sadar, sedekat apapun jarak yang memisahkan, perjumpaan hanya akan menjadi mustahil tanpa adanya kesempatan.
Naasnya, aku tidak pernah memiliki kesempatan itu. Dia pergi, tanpa sempat bertemu denganku. Dia pergi, mendahului tahun yang seharusnya menjadi rencana setelah kelulusanku. Lalu kini, hanya ada aku, sendiri, memendam perasaan asing ini, menggenggam kartu identitas dan baju terakhir yang dia pakai, mencoba memaafkan diriku yang belum bisa memaafkan peristiwa bertahun-tahun silam itu.
Dalam do'a-do'aku, selalu kusempatkan untuk memohon kepada Tuhan, semoga suatu saat nanti, entah di alam yang mana, akan ada kesempatan untuk dengannya, bersua.
Akhirnya, selamat jalan, Mas Sas. Tenang di sana.
Komentar
Posting Komentar