Cinta dan Luka(s)

Raden Yoga Prahmadiyan PoV 

"Kita tidak bisa menentukan untuk jatuh cinta kepada siapa. Tapi kalau memang ada pilihan, jangan pernah jatuh cinta pada sahabatmu sendiri."

 Hai. Aku kembali. 

 Tapi kali ini aku tidak akan menceritakan kepadamu tentang bagaimana hari-hariku, seperti biasanya. Aku tidak akan menceritakan bagaimana Lukas, temanku yang kalem itu, berubah menjadi pemarah karena kalah taruhan bola. Aku juga tidak akan membicarakan strategi menyontek dengan teman-teman sekelas saat ujian akhir semester tiba. Hari ini aku kembali, sebagai aku yang paling aku, sesuatu yang mungkin tidak pernah kamu sangka kalau ini benar aku.

 Entah dari mana aku harus memulainya, tapi kalau kamu menemukan ada orang paling bodoh di dunia, mungkin aku adalah salah satunya. Betapa aku tidak bisa untuk mengendalikan perasaanku sendiri. Perasaan yang semestinya sejak awal kupendam dalam-dalam, justru kurawat diam-diam. Perasaan yang seharusnya tak kubiarkan tumbuh, kian hari malah kian utuh.

 Aku pernah merasa menjadi orang paling beruntung, menemukan seseorang yang paling dekat, paling mengerti, dan paling peduli. Aku bisa menuliskan berlembar-lembar perbendaharaan kata untuk menunjukkan kepadamu, betapa dia terlalu sempurna untuk kesebut sahabat.

 Kalau kamu bertanya kenapa baru hari ini aku berani menceritakan perihal dia kepadamu, aku masih tak yakin apakah aku memiliki jawabannya. Bagiku dia berbeda, tidak seperti sahabat-sahabatku yang lain yang sering kuceritakan kepadamu. Sampai di sini kuharap kamu mengerti, betapa ada hal-hal dalam hidupku yang kurasa cukup aku sebagai pemegang kendali. Bahwa biarlah apa-apa yang menyangkut perasaan akan kuhadapi sendiri. Ternyata aku keliru, beberapa hal terjadi di luar kendaliku.

 Aku mengenal dia sudah cukup lama, meski persahabatan baru intim terjalin saat kami masuk di SMA yang sama. Lazimnya sebuah hubungan persahabatan, banyak hal sudah kami lakukan bersama. Bukan hal asing ketika aku memintanya menemaniku pergi kemana-mana, pun sebaliknya.

 Alih-alih saling membutuhkan, aku mulai merasa takut kehilangan. Rasa yang kupikir wajar, tanpa kusadari semakin kuat mengakar. Aku benci mengatakan ini, tapi perlahan rasa itu kian pasti. Kamu benar, aku telah jatuh hati. Jangan menasehatiku untuk tidak jatuh cinta pada sahabat sendiri. Tanpa kamu memberitahupun aku mengerti. Sudah kukatakan ada hal-hal yang terjadi di luar kendali, dan apa kamu tahu? Sekalipun sudah menolak kehendak hati, kita tetap tidak bisa untuk menentukan jatuh cinta kepada siapa. Cinta tetaplah takdir yang mau tak mau harus diterima. Dan itulah yang selama ini kucoba lakukan, menerima diriku sebagai yang jatuh cinta kepadanya.

 Apakah cukup sampai di situ? Kukira memang seperti itu baiknya. Aku tidak terlalu bodoh untuk membiarkannya tahu kalau aku menaruh rasa, sebab aku paham resikonya. Aku tak mau harus kehilangan dia sebagai sahabat, sekaligus orang yang kucinta. Hari-hari berjalan begitu adanya, hubungan persahabatan berlanjut sebagaimana biasanya, dengan dia yang mengira semua baik-baik saja, dengan aku yang diam-diam memendam rasa.

 Yang perlu kulakukan selanjutnya hanyalah menunggu waktu paling tepat untuk mengungkap, jika itu memang ada.

 Segalanya memang baik-baik saja, sampai suatu hari aku tahu dia sedang jatuh cinta. Dan apa kamu tahu? Bukan aku orang yang beruntung ia beri rasa. Aku pikir tak mengapa. Mungkin ini memang cara agar aku tidak benar-benar kehilangan dia. Agar aku bisa pelan-pelan melupakan rasaku kepadanya. Kemudian berlaku baik sebagai sahabat seperti sebelumnya. 

 Tapi hidup tak selalu berjalan seperti apa yang dipikirkan. Semuanya benar-benar berantakan. Aku bahkan tak yakin apakah masih bisa disebut baik-baik saja saat tahu bahwa yang dia cintai adalah juga teman dekatku, yang sering kuceritakan kepadamu itu.

 Sejak saat itu aku merasa dunia tak lagi berpihak kepadaku. Aku hanyalah yang pernah, sebelum akhirnya sudah. Pernah begitu beruntung memiliki sahabat seperti dia, sebelum akhirnya hancur karena kebodohanku sendiri menaruh rasa. Pernah begitu yakin, semua akan indah, sebelum akhirnya sadar jatuh cinta kepada sahabat sendiri sungguh menghancurkan segalanya. Jika tidak olehku, maka oleh orang lain. Memang harus ada yang dikorbankan. Naasnya, dalam kisahku ini hanya aku, satu-satunya korban. 

 Setelah ini, entah apa yang harus kulakukan. Melepaskannya menjadi satu hal yang tak pernah kurencanakan. Untuk keutuhan persahabatanku dengan dia dan teman akrab yang dicintainya, entah, aku ingin bertahan, tapi jika lagi-lagi hanya aku yang hancur bukankah itu kejam?


***

Cinta dan Luka(s) bagian 2: Cinta Syakila Kusmana PoV

Komentar

Posting Komentar