21 | Bagian Satu

"Sejauh mana kamu percaya kekuatan do'a?

Seyakin apa kamu dengan cara Tuhan mengabulkan do'a-doa'mu itu?"


Agustus 2017

 Apa kamu pernah berpikir kalau sekolah sebenarnya tidak begitu berguna? Bahwa selain secarik kertas bernama ijazah yang dipersyaratkan jenjang pendidikan selanjutnya atau tempat kerja itu, sekolah hanyalah ruang atensi bagi mereka yang berprestasi. Sementara bagi orang-orang berkapasitas otak rendah sepertiku, sekolah menganggap kami hanya sebagai pelengkap daftar hadir harian semata. Mencerdaskan kehidupan bangsa makin kesini terdengar seperti dongeng belaka. Sekolah lebih memperhatikan mereka yang sudah cerdas, yang bodoh ya bodoh saja sudah. Jangan berharap lebih. 

 Mungkin tidak begitu pemikiranmu, tapi aku juga tidak sendiri. Paling tidak 5 sampai 8 kawan sekelasku memiliki pemikiran yang sama. Itulah mengapa di awal semester kelas 11 ini, aku dan kawan-kawanku memilih kabur dari kelas untuk nongkrong di kios es campur milik Mas Atik, kenalanku.  

 "Minggat lagi?" Begitulah kira-kira pertanyaan yang penjaga kios es campur itu lontarkan setiap hari. Meski tanpa bertanya pun dia sudah tahu kalau kami pasti bolos. 

 "Mas, piloknya masih?" tanyaku suatu hari kepada Mas Atik.

 "Masih ada yang warna pink di rumah. Butuh berapa?"

 "Dikit sih. Buat coret-coret tembok doang."

 "Tembok sekolahan?" tanyanya dengan tatapan penuh selidik. 

 "Bukan dong. Biar suka minggatan, aku masih cukup baik untuk menjaga fasilitas sekolahan."

 "Murid nakal teladan memang," timpal salah satu temanku yang disambut gelak tawa kami semua. 

 Begitulah kami. Selalu ada bahan obrolan dan canda riang di setiap "pelarian" kami dari kelas. Setidaknya itu lebih baik daripada menahan kantuk mendengar penjelasan guru yang sama sekali tidak aku mengerti. Bukan berarti aku tidak ingin mengerti, tapi setiap kali bertanya, orang-orang sepertiku hanya dipandang sebelah mata dan dituduh tidak pernah belajar di rumah. Padahal tempat belajar sebenarnya kan memang di kelas. Entahlah, bagiku suasana kelas tidak pernah menyenangkan. 

———

 Aku pulang ke rumah bersama dengan bubaran jam sekolah, ya kamu tentu paham strategi pembolos sepertiku. Lalu apakah orang tuaku tidak pernah curiga? Persetan. Aku bahkan tidak tahu di mana sebenarnya orang tuaku berada. Umurku sudah 17 tahun, terlalu dewasa untuk dianggap sebagai anak kecil yang tidak tahu tentang rahasia keluarga. Tentang pakde dan bude yang bertahun-tahun kupanggil bapak dan mama, tentang namaku di kartu keluarga mereka yang sebenarnya palsu adanya, tentang semuanya. 

 Aku tidak tahu bagaimana masa kecilku yang sesungguhnya. Kenapa kakak dari ibu kandungku yang justru mengasuhku? Kenapa aku dibuat sedemikian rupa agar mengenal mereka sebagai orang tua kandungku? Kenapa kepada ibu kandungku sendiri—yang baru belakangan ini aku tahu pasti, aku harus memanggil bibi? Kenapa sampai sebesar ini aku tidak diberitahu dan justru orang lain yang mengungkap kebenarannya? Ada banyak sekali kenapa-kenapa yang lain dalam kepalaku. Mengantarkan pada kesimpulan yang hari ini kutulis di tembok kamar tidurku dengan pilok pinjaman Mas Atik:



#DERITA ANAK HARAM#

 Aku tidak yakin apakah tulisan itu benar atau hanya dugaanku saja, yang jelas hari ini seperti itulah isi kepalaku, meski sedikit ada andil emosi. Bagaimana tidak, setiap kali melihat anak yang akrab dengan orang tuanya, setiap kali melihat mereka meminta sesuatu kepada orang tuanya, setiap kali menyaksikan senyum keharmonisan mereka, ada bagian dari hatiku yang tergores semakin hari semakin dalam. Mungkin aku bisa melakukan itu, seandainya belum tahu kalau yang selama ini aku panggil mama, sebenarnya bukanlah ibuku. 

 Untuk bagian hidupku yang ini, untuk masa-masa menyaktikan ini, aku rasa perlu berterima kasih kepada Virgoun dan Last Child. Karena lagu Diary Depresiku benar-benar mewakili beberapa keadaanku. Aku bukan laki-laki cengeng, tapi air mataku terlalu sulit dikendalikan untuk mendengar lagu broken home yang satu itu. 

 "Wajar bila saat ini, ku iri pada kalian. Yang hidup bahagia berkat suasana indah dalam rumah. Hal yang selalu aku bandingkan dengan hidupku yang kelam..."


***


Komentar

Posting Komentar