Srengenge #7 | Yang Kukira Penggantimu

Aku sempat terjebak begitu lama dalam kekangan bernama kenangan. Waktu—yang katamu menyembuhkan, tidak pernah benar-benar menutup pintu masa lalu. Aku merasa masih terlalu banyak hal indah, sekalipun dengan itu luka-luka juga kian membasah. 

Bertahun-tahun aku terbelenggu perasaan semacam itu. berusaha mati-matian berdamai dengan sepi, membesar-besarkan hatiku sendiri dengan harapan bahwa kata pulang selalu ada bagi setiap yang pergi. Aku tidak punya alasan kenapa bisa seyakin itu. Yang aku percaya, pulang berlaku juga untuk kepergianmu. 

Sejak hari kamu angkat kaki dari sini, dari ruang rindu yang dulu kita sebut rumah ini, bukan berarti aku tidak berusaha mencari penghuni baru. Aku sudah mencobanya, sekali, dua kali, berkali-kali. Tapi lagi-lagi, aku selalu gagal sebelum memulai. Ada semacam perasaan takut yang begitu kuat. Aku takut penghuni baru hanya akan menganggap rumah ini sebagai pelarianku atas kepergianmu. Aku takut gagal menjadi tuan yang baik bagi pendatang baru. Aku takut pada ketakutanku. 

Aku sadar, aku tidak akan pernah berhasil membangun cerita baru selama belum selesai dengan cerita lamaku. Tapi aku juga tidak tahu, benarkah sudah tamat cerita lama itu? Pertanyaan yang seharusnya hanya kamu yang bisa menjawabnya. 

Sekali lagi aku mencoba membuka mata, menemukan pandangan baru. Bahwa selagi belum kutemukan akhir dari cerita lamaku, biarlah semua berjalan sebagaimana waktu menginginkannya; kamu dengan dunia barumu, sementara aku dengan kesendirianku. Jujur saja, aku tidak percaya diri untuk menyebut situasi ini dengan "biarkan aku sendiri dulu". Haha. Klise.

Apakah aku berhasil? Oh tentu saja tidak. Mana mungkin aku menulis ini jika yang kutemui adalah keberhasilan. Maksudku aku harus banyak belajar lagi tentang tidak semua berjalan sesuai yang diinginkan. 

Di saat aku benar-benar yakin untuk sendiri berdamai dengan sepi, seseorang justru datang mengucapkan permisi. Tuan rumah selalu punya pilihan untuk tidak membuka pintu, tapi bagaimana jika ternyata yang berada di balik pintu itu adalah jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang selama ini kucari?

Maka dengan hati-hati kubukakan pintu, memberikan sambutan paling baik bagi sebuah selamat datang, membiarkan dia masuk sekehendaknya, menyembunyikan sepiku untuk sementara.Berlaku sebagaimana sebaik-baik tuan rumah. 

Rumah yang sekian lama berantakan, kembali rapi, pelan-pelan. Aku merasa inilah waktunya. Waktu untuk membunuh sepi. Waktu untuk mengakhiri cerita lama sekaligus memulai paragraf cerita baru. Aku sudah siap menemukan pengganti untuk tokoh utama ceritaku yang pernah diperankan olehmu.

Alih-alih membunuh sepi, justru aku yang terbunuh oleh sepi itu sendiri. Dia yang kupikir penggantimu tak pernah berniat datang sebagai penghuni baru. Dia merasa rumah ini bagus untuk dihuni tapi tidak baginya di waktu-waktu kini. Aku tidak tahu harus bagaimana menyikapi ini. Satu-satunya hal yang kutahu, aku gagal lagi.

Untuk setiap kesepian, yang datang belum tentu menjadi teman, bisa jadi itu adalah rupa dari kesepian lainnya.




Jakarta, 2 April 2021

Komentar