Malam Raya
—
"Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa-ilaha ilallahu wallahu Akbar. Allahu Akbar walillahilhamd..."
Gemuruh lafadz takbir bersahutan dari toa-toa masjid, menggema mengudara, menyejukkan sesiapa saja yang mendengarnya. Aku berjalan menyusuri lorong gang kecil perkampungan warga. Tujuanku hanya satu: warung Madura. Setelah buka puasa hari terakhir Ramadhan tadi aku lupa belum sempat membeli rokok.
Di lorong gang sempit itu aku melewati rumah-rumah warga, beberapa merupakan asli penduduk kampung sini, sisanya pendatang yang berpuluh-puluh tahun sudah menetap dan berkeluarga. Sesekali pandanganku mengarah ke rumah mereka, satu-persatu.
Rumah pertama dihuni sopir bajaj dan keluarganya, dia memiliki seorang istri dan dua anak. Anaknya yang paling besar setahuku kelas 3 SMP. Mereka sedang berkumpul di ruang tengah rumah yang bisa dilihat langsung dari luar melalui jendela. Kulihat mereka sibuk menganyam daun kelapa membuat ketupat, setelah siang tadi sibuk memasak rendang. Aku tahu itu dari bau yang menguap mengganggu hidung orang yang lewat.
Mereka bercengkerama, sesekali tertawa. Nampak jelas raut bahagia keluarga kecil itu menyambut hari raya.
Rumah kedua dihuni si ibu pedagang nasi uduk. Tidak tahu beliau memiliki berapa anak, rumah itu ramai sekali. Beberapa dari mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak. Hari ini berkumpul menjadi satu, sampai penuh sesak beranda rumah oleh sepatu dan sandal-sandal baru. Riuh tawa dan kebersamaan mereka benar-benar menggambarkan betapa hari raya selalu menjadi momen penting untuk silaturahmi keluarga.
Rumah ketiga adalah kantor Pak RW. Anggota keluarganya tak kalah banyak. Di malam takbiran ini mereka berkumpul di depan rumah yang juga sekaligus aula warga. Salah satu dari mereka masih sibuk menjaga kios bensin eceran, sementara yang lainnya duduk melingkari speaker aktif yang memutar gema takbir. Mereka semua ramah-ramah, selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang lewat depan kios.
Rumah berikutnya pemilik warteg. Si ibu berasal dari kota yang sama denganku, tidak mudik setelah sekian tahun lamanya karena memang sudah bersuami penduduk asli sini. Beliau sekeluarga adalah orang-orang baik. Beberapa kali aku diberi bonus ketika membeli makan di sana.
Lalu akhirnya aku sampai di warung Madura. Aku berdiri mematung di depan etalase yang penuh oleh bermacam-macam barang dagangan. Aku hampir lupa mau membeli apa. Perempuan muda yang menjaga warung itu menegur lamunanku.
"Mau beli apa?"
Aku masih diam. Pertanyaan itu tidak bisa mengembalikan pikiranku yang sedang berkeliaran tidak menentu. Isi kepalaku jelas sedang tidak di situ. Bayangan tentang rumah-rumah yang tadi kulewati tergambar jelas di kepalaku. Tentang tawa mereka, tentang canda mereka, tentang kebersamaan mereka. Tiba-tiba aku ingat ibuku, aku ingat bapakku, aku ingat Widya dan Dzikri, kedua adikku. Aku ingat rumah. Aku ingat kampung halaman.
Ini tahun keduaku tidak pulang saat lebaran. Aku benar-benar merindukan suasana malam takbiran. Membantu bapak menggelar karpet dan jajanan ringan untuk disuguhkan kepada tamu-tamu yang besok datang. Merusuhi ibu yang sedang sibuk membuat opor ayam dan rempeyek kacang. Membersihkan rumah. Menyiapkan sarung, baju koko, dan sajadah untuk sholat Ied besok hari. Menunggu teman-teman mengajak bersama-sama ke mushola untuk takbiran. Semua itu kulakukan dua tahun yang lalu. Sudah lama sekali rasanya tidak disibukkan oleh hal seperti itu.
"Mas?"
Suara perempuan muda itu mencoba membuyarkan lamunanku. Aku masih mematung. Ingatanku sudah mudik ke kampung halaman. Sedang sibuk mencari minyak tanah untuk membuat obor dari bambu, berjaga-jaga kalau nanti malam ada takbir keliling.
"Hoyyyyy."
Perempuan muda itu menepuk pundakku. Aku tersadar.
"Signa*** sebungkus," kataku.
"Ngelamunin apa?"
"Engga. Takbiran tahun ini lebih meriah ya dari tahun lalu," kataku mengalihkan pembicaraan."
"Engga tahu. Tahun lalu kan saya belum di sini," jawabnya sembari memberikan pesananku.
"Oh iya. Tahun lalu masih dilarang sama pemerintah soalnya. Tahun ini kan udah boleh Tarawih sama Sholat Ied jadi lebih meriah," jawabku menyodorkan uang dua puluh ribuan.
Perempuan muda itu mengangguk, mengambil uang receh untuk kembalian lalu memberikan kepadaku. Tak ingin lama-lama di situ, aku beranjak pulang ke rumah bos dimana selama ini aku tinggal. Aku melewati rumah-rumah tadi lagi, bayangan tentang kampung halaman terbersit lagi, tidak terasa air mata mengalir pelan membasahi pipiku. Kupercepat langkah kaki sembari sesekali tanganku mengusap pipi.
Tahun lalu, aku membuat surat untuk ibuku. Kukemas dalam bentuk video pendek yang kukirimkan kepada adikku. Aku tahu ibu juga rindu dan ingin mendengar suaraku di malam takbiran. Awalnya kupikir tahun itu adalah tahun pertama dan terakhir aku tidak lebaran di rumah, nyatanya Tuhan berkehendak lain, aku harus mengulang kepahitan jauh dari keluarga di hari raya, sekali lagi.
Aku masih ingat betapa gejolak jiwaku meronta-ronta saat menuliskan surat untuk ibu. Ada perasaan marah, sesal, dendam, haru, rindu, kecewa, sekaligus sedih dan bahagia dalam satu waktu. Aku menuliskannya dengan berapi-api. Di saat yang sama hati kecilku sangat takut disebut durhaka.
***
Bu.
Baru kemarin rasanya aku titipkan air mataku di surat yang kukirimkan kepadamu.
Baru kemarin rasanya aku berjanji untuk pulang di lebaran berikutnya.
Baru kemarin rasanya aku terpojok di sudut kamar, seolah menjadi manusia paling malang sejagat dunia.
Tapi hari ini, Bu.
Air mata itu tak bisa kubendung, meski kau aku jangan menangis lagi.
Tapi hari ini, Bu.
Kuingkari janjiku sendiri untuk pulang di hari lebaran.
Tapi hari ini, Bu
Aku masih merasa menjadi anak paling malang yang tak bisa sungkem di kakimu, di mana pintu surga bersemayam.
Bu.
Sejatinya pertanyaanku tahun lalu belum memiliki jawaban.
Tentang apa sebenarnya makna "Sugeng Riyadi" itu?
Apakah sungkem maaf yang tumpah bersama derai air mataku di kakimu?
Atau lembut usap tanganmu di kepalaku, sesaat sebelum kau dekap erat tubuh lemahku?
Atau bisik lirih suaramu di telingaku: "Jangan menangis, Nak," padahal air matamu sudah lebih dulu jatuh di pipiku?
Jika benar begitu, haramkah ketidakpulanganku yang kedua kali ini, Bu?
Durhakakah aku bila jauh dari peluk dan usap lembut tangan, Ibu?
Tak ada lagikah Surga bagiku, bila tak mampu bersimpuh mencium kakimu?
Hari raya tahun ini, Bu.
Lagi-lagi tak ada opor ayam, tak ada rempeyek kacang, tak ada kacang rebus kesukaan. Bahkan tak ada temu penebus lunas kerinduan.
Tapi, aku tahu betul, Bu.
Keluasan maafmu sudah lebih dulu terbit, sebelum hilal hari raya nampak.
Maafkan anakmu, Bu.
Perkenankanlah aku bersimpuh dari jauh:
Sembah sungkem bekti, Sugeng Riyadi.
Komentar
Posting Komentar