Srengenge #2.2 | Surat yang Tak Pernah Kau Baca
Teruntuk Rin,
Bicara soal aku siapa atau kamu siapa, untuk saat ini mungkin sudah tidak ada gunanya. Pada kenyataannya, bagi masing-masing kita, baik aku maupun kamu adalah bukan lagi siapa-siapa, kecuali hanya dua orang yang gagal mengatasi terjal.
Tapi biar bagaimana akhirnya, Rin, aku tetaplah aku, yang pernah kamu kenal dengan baik. Yang pernah menjadi satu-satunya alamat dari surat-suratmu. Yang mungkin saja kamu tidak tahu kalau surat-surat itu masih kusimpan rapi di laci meja kamarku.
Rin.
Meski manusia adalah tempatnya luput dan lupa, semoga kamu tidak benar-benar melupakan tentang yang pernah terjadi di bulan Desember. Ya, bulan ini, bertahun-tahun yang lalu. Saat rerintik sisa hujan menjadi saksi bagaimana semuanya bermula.
Harus jujur aku katakan, segala hal di hari ke dua puluh enam itu memang mengingatkanku kepadamu. Bagaimana mungkin aku bisa lupa, sementara dalam surat-suratmu dengan sempurna kamu eja satu persatu.
Tentang mata kita yang saling mencuri tatap meski terhalang jendela kelas satu, tentang pohon kersen depan kelas dan surat pertamamu, tentang mawar putih yang kuselipkan di telinga kananmu saat pertama bertemu. Tentang semuanya, Rin, semuanya.
Barangkali dunia memandang kita sebagai dua orang paling ketinggalan zaman, di saat sedang ramai-ramainya telepon pintar kita lebih memilih surat menjadi jalan bertukar kabar. Dunia mungkin belum tahu bahwa ketika bicara cinta segala keanehan terasa wajar.
Rin.
Sampai hari ini, aku tidak tahu, akankah kutemukan lagi hari-hari menunggu datangnya secarik kertas yang kamu titipkan kepada temanku. Detik-detik berharap cemas tentang apa yang kamu tulis di suratmu yang baru. Atau saat-saat tidak sabar untuk segera membalas tulisan-tulisanmu. Aku tidak tahu, Rin.
Sejak surat terakhirmu—yang juga kamu kirim di bulan Desember, aku merasa bahwa sudah bukan lagi keharusan untuk membalasnya. Tidak perlu perayaan mewah untuk sebuah kepergian, bukan?
"Aku pasti pulang, Mas. Pasti. Meski kita berada di temaram langit, matahari pagi akan kembali terbit." Katamu menjelang pamit.
Aku selalu percaya bahwa pulang berarti kembali. Aku lupa kalau kamu selalu bisa untuk punya rumah baru sebagai alamat pulangmu.
Kemudian ini, surat terakhir dariku yang mungkin tidak akan pernah kamu baca. Do'aku semoga kamu baik-baik di sana, di tempat yang kamu namakan sebagai pulang yang nyata. Do'aku akan selalu begitu, meski di tempat kepulanganmu itu tidak kamu temukan aku sebagai rumahmu.
Jakarta, 18 Desember 2020
—
Untuk mengerti kenapa kutulis surat ini, baiknya baca dulu puisiku di sini.
Ayo bikin rumah baru, tak modali wkwk
BalasHapusModali doa 😂
Hapus