Srengenge #4 | Pindah Rumah
Sebelum membaca ini, ada baiknya kamu baca dulu yang kumaksud sebagai "rumah."
—
Seperti kukatakan sebelumnya, berbicara perihal pergi dari rumah selalu ada dua kemungkinan; pulang atau pindah.
Apa yang paling baik dari keduanya? Kukira tidak ada. Tiap-tiap dari kemungkinan itu memiliki sisi pedihnya sendiri. Kalau kamu tanya menurutku baik yang mana, sudah pasti aku memilih pilihan pertama. Pamitmu pergi memang untuk kembali kan?
Tapi mungkin tidak begitu bagimu. Saat kamu merasa rumah sudah tak lagi nyaman, dan pindah menjadi satu-satunya pilihan, aku bisa apa selain berusaha merelakan? Bukankah lebih pedih memaksamu bertahan dalam ketidaknyamanan daripada membiarkanmu pergi meski menyakitkan?
Dan pada kenyataannya memang itu yang terjadi. Kamu mengingkari pamitmu sendiri.
Aku tidak sedang membicarakan siapa salah siapa benar, karena keputusanmu pergi memang bukan tentang itu. Aku hanya sedang menyayangkan kenapa dulu begitu percaya saat kau sebut kita adalah rumah.
Aku yakin kamu juga mengerti, rumah seharusnya tidak begini. Sebagaimana mestinya tempat pulang, bila ada yang rusak baiknya diperbaiki, bukan ditinggal pergi, kan?
Ah. Ternyata sejauh ini dekat denganmu, sedalam ini menjalin rasa bersamamu, aku tak pernah benar-benar mengenalmu. Menyedihkan sekali rasanya, mengingat apa-apa yang indah bisa semudah itu berubah.
Akhirnya, jika memang harus ada ucapan selamat atas kepindahan, maka itu adalah selamat tinggal.
Terima kasih dan ya, selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar