21 | Bagian Dua
Sebelum membaca bagian dua ini, ada baiknya kalian baca dulu 21 | Bagian Satu
"Kita tidak pernah bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, tapi kita selalu bisa untuk hidup dengan jalan yang bagaimana."
Maret 2018
Bulan ini usiaku genap 18 tahun. Aku bukan lagi anak kecil yang hanya memikirkan kesenangan, meski jauh sebelum usiaku yang sekarang, hidupku juga tidak selalu tentang senang. Keadaan memaksaku lebih dewasa dari usia. Sungguh kalau hidup bisa memilih, aku akan memilih jadi anak konglomerat saja, tidak perlu repot-repot memikirkan dapat uang dari mana untuk membeli sesuatu yang kuinginkan. Tapi Tuhan tidak mengijinkan takdir berkompromi dengan kehendak makhluk-Nya bukan? Termasuk aku, pun kamu, yang ditakdirkan tidak bisa memilih lahir dari rahim siapa.
Takdir sudah ditentukan, tapi untuk menjalaninya, kita selalu memiliki banyak jalan. Dan inilah jalan yang kutempuh. Kebanyakan orang dewasa akan menilaiku sebagai anak yang urakan, berandalan, atau stigma-stigma negatif lainnya. Aku tidak sekolah, tidak bekerja, hanya berkumpul dengan teman-temanku dari satu tempat tongkrongan ke tempat tongkrongan lainnya.
Dari kacamata mereka orang-orang dewasa, apa yang kulakukan adalah salah. Aku tidak menyalahkan mereka, tapi asal mereka tahu, dewasa yang seharusnya tidak seperti itu. Mereka selalu menilai dari apa yang terlihat tanpa sedikitpun memperhitungkan sebab. Mereka melihat aku urakan, tanpa peduli kenapa aku bisa begitu. Mereka hanya memandang sebelah mata dan mencibir kelakuanku yang suka mabuk, tanpa pernah mengerti itulah satu-satunya caraku berdistraksi dari keadaan yang kejam ini.
Sejak tahu tentang kebenaran kalau aku hanya anak angkat, aku merasa hidupku adalah hak prerogatifku. Orang bisa menilai, tapi aku yang menjalani. Aku tidak lagi peduli omongan miring tentang aku yang selalu pulang malam dan hobi motor jalanan. Untuk apa aku peduli kepada mereka, sementara mereka tidak pernah peduli kepadaku? Siklus hidup selalu begitu kan, sekalipun kita tidak berbuat curang, hidup mencurangi. Sekalipun kita tidak berlaku kejam, kita yang dikejami.
———
Sampai hari ini aku masih memanggil pakde dan budeku sebagai bapak dan mama. Selain karena sudah terbiasa, kupikir itu adalah panggilan terbaik untuk beliau berdua yang sudah mengasuhku sejak bayi. Mereka bukan keluarga kaya, meski untuk menghidupi ketiga anaknya, termasuk aku, mereka masih mampu mencukupi. Dan aku mulai mencoba berdamai dengan ibu kandungku. Komunikasi kami terbilang intens, meski sebatas lewat telepon genggam saja.
Bagaimanapun rasa marah dan kecewa, ibu tetaplah ibu. Itu yang menjadi pedomanku, sembari sesekali mencari informasi kebenaran perihal siapa aku yang sebenarnya. Awalnya aku selalu memanggil beliau dengan panggilan lik, karena beliau adik dari orang tua angkatku. Tapi atas ijin beliau, aku mulai memanggilnya dengan ibu.
Sebagai seorang ibu, menurutku beliau cukup bertanggungjawab. Beberapa bulan sekali beliau mengirimkan uang dan kadang pakaian kepada mama untuk menopang hidupku. Bahkan belakangan kutahu, biaya sekolah dan kebutuhanku dari kecil, sebagian besar beliaulah yang menanggungnya. Aku mulai berpikir bahwa pasti ada alasan kuat kenapa beliau sampai menyerahkan status orang tua atas namaku kepada orang lain. Kalau semata-mata tidak menginginkan kelahiranku, beliau harusnya lepas tanggungjawab bukan? Dari premis-premis itulah, teka-teki mulai terungkap.
Beberapa kali ibuku mengajarkan tentang hidup mandiri. Bahwa kita tidak bisa selalu bergantung kepada orang lain, sekalipun keluarga sendiri. Kelak aku tahu ibu mengatakan itu karena pengalamannya sendiri diabaikan oleh orang-orang terdekatnya bahkan di saat sedang lemah-lemahnya.
Aku memutuskan untuk berhenti sekolah. Sebuah keputusan besar yang membuatku makin dikucilkan oleh orang-orang dewasa yang menganggap sekolah sebagai satu-satunya tempat belajar. Ibu awalnya kaget dan menasihatiku untuk mencoba lagi, tapi keputusanku sudah bulat, meski aku tidak tahu apakah dengan berhenti sekolah hidupku akan lebih baik. Aku hanya ingin bebas, berdaulat atas diriku sendiri, dan melepaskan diri dari segala yang mengungkungku. Jika dengan bersekolah hidupku menjadi terkekang, maka keluar menjadi satu-satunya jalan. Orang-orang mulai berpikir pergaulan menjadi pengaruh dan sebab musabab aku tidak lagi sekolah. Mungkin ada benarnya, Tapi kalau kamu membaca awal paragraf ini, kamu sudah tahu alasan sebenarnya.
***
Pertengahan 2018
Setelah keluar dari sekolah, aku makin sering keluar malam pulang pagi. Mereka yang tidak tahu akan menganggapku hanya nongkrong-nongkrong dan minum-minum saja. Bagiku tidak mengapa, bukankah orang lain selalu melihat hal buruk tentangku sejak dulu? Aku sudah terbiasa dengan itu. Karena sia-sia saja aku jelaskan kepada mereka bahwa di sela-sela main malamku, otakku terus bekerja bagaimana cara mendapatkan pekerjaan dengan segera.
Pada suatu hari yang cerah di pertengahan tahun 2018, aku mendengar kabar kalau tempat kerja temanku di Tangerang sedang membutuhkan karyawan. Tanpa banyak pikir panjang, aku berangkat. Sebenarnya sebelum berangkat Tangerang juga aku sudah bekerja. Tepatnya membantu pekerjaan kakak teman dekatku, Mas Aziz. Dia memiliki usaha rumahan membuat gula serbuk. Aku dan Fitra, adikku, sering membantu proses oven gula serbuk itu. Aku tidak bisa mengatakan itu sebagai sebuah profesi untukku, sebab sejak awal niatku hanya membantu, meski Mas Aziz kerap memberikan uang jajan dan rokok kepadaku.
Akhirnya untuk pertama kali dalam hidupku, aku pergi merantau. Hal yang sudah sejak lama ada di pikiranku meski aku masih tak percaya akan sanggup melakukannya. Jujur, berat sekali jauh hidup dari bapak dan mama. Sekalipun ketika di rumah aku jarang pulang, untuk tidak benar-benar tidak kembali ke rumah rasanya aneh. Mungkin benar kata ibu, bahwa hidup memang harus siap mandiri, dalam arti yang sesungguhnya, melakukan apa-apa seorang diri.
Aku tidak akan bercerita panjang lebar tentang perantauanku yang pertama ini, satu yang perlu kamu tahu, bahwa ketika kamu ingin mengetahui sifat asli dari teman sekampungmu, ajaklah dia merantau bersama. Niscaya kamu akan tahu, mana yang benar-benar teman, mana yang hanya atas nama kepentingan. Aku bertahan beberapa bulan saja di Tangerang karena hal itu, salah satu alasan selain gaji yang tidak memadai.
Aku memang keras kepala, aku tak cukup bodoh untuk membiarkan harga diriku diinjak-injak begitu saja. Jika tidak lebih baik, maka lebih baik tidak. Bukankah begitu? Aku pulang dengan tangan hampa. Kembali kepada kehidupanku yang sebelumnya.
***
Komentar
Posting Komentar